Kapal kayu dengan Nomor GT 29 NU 30 7 PPE yang mengangkut sekitar 75 ton solar ilegal badan kapal sebagai tangki agar dapat menampung bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dalam jumlah besar.

Direktur Operasi Laut Bakamla, Laksamana Pertama TNI NS Embun, menjelaskan, hampir seluruh bagian kapal telah dimodifikasi sebagai tanki untuk menampung minyak solar.

Selain itu kata dia, kapal tersebut diduga beroperasi tidak sesuai peruntukan.

“Kemungkinan kapal ikan ini, tapi dirombak jadi kapal pengangkut minyak,” ujarnya, Pangkalan Armada Kamla Barat Batam, Selasa (30/7/2019).

Kata dia, pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan kapal kayu tersebut akan didalami penyidik yang akan menanganinya kasus tersebut.

“Sementara yang pasti kapal ini angkut minyak tanpa dokumen yang tentunya melanggar undang-undang migas,” ujarnya.

Penangkapan kapal pengangkut BBM ini kata Embun, merupakan komitmen Bakamla untuk memberantas aktivitas illegal yang terjadi di wilayah perairan Indonesia.

Itu kata dia, sejalan dengan kebijakan presiden RI Joko Widodo untuk memeratakan harga BBM diseluruh pelosok negeri.

“BBM harus satu harga, kalau ada permainan seperti ini tentu melenceng dari program pemerataan yang ada,” jelasnya.

“Penertiban peredaran minyak illegal akan terus jadi prioritas Bakamla kedepannya,” tegasnya lagi.

Kata dia, minyak solar yang ada di dalam kapal tersebut sekitar 75 ton dan belum diketahui secara pasti dari mana asalnya dan akan dibawa kemana.

Sebab lanjutnya, penyelidikan baru akan dimulai saat sudah diserahkan ke pihak kepolisian.

Namun demikian, berdasarkan informasi yang beredar di lapangan, kapal pengangkut BBM illegal itu diduga mendapatkan solar dari pengepul solar nonsubsidi di kota Batam, Provinsi Kepri.

Solar-solar ini diduga dilansir dari berbagai SPBU yang ada dengan berbagai cara. Salah satunya dengan modus surat rekomendasi untuk nelayan atau masyarakat pulau.

 

Foto dan Teks : Dalil Harahap/Batam Pos