Jajaran polsek Seibeduk bekuk dua pelaku pemalsuan uang dengan cara foto copy uang lembaran Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu. Dua pelaku tersebut adalah Usman Ali Basah, 58 asal Belawan dan Sarifudin, 38 asal Aceh. Dari tangan dua pelaku ini polisi mengamankan 50 lembar foto copy uang pecahan Rp.100 ribu dan lima lembar foto copy uang pecahan Rp 50 ribu.

Keduanya dibekuk di tempat yang berbeda yakni kampung Aceh dan kampung Tower, Simpang Dam, Mukakuning, Selasa (25/6) lalu.

Kapolsek Seibeduk AKP Joko Purnawanto mengatakan, pengungkapan ini bermula dari informasi intelejen bahwa dua pelaku pencetak uang palsu ini sudah sepekan berkeliaran di Mukakuning. Kedua pelaku bukan warga Batam sehingga dicurigai masyarakat sekitar. “Masyarakat curiga, anggota (intel) ke lapangan (menyelidiki) dan benar mereka mencetak uang palsu,” ujar Joko, Senin (1/7).

Selain uang palsu hasil kejahatan mereka, dari tangan dua pelaku ini polisi juga menyita satu unit mesin printer merk Cannon sebagai alat untuk mencetak uang palsu. Modus yang dilakukan dua pelaku, uang asli lembar Rp.100 ribu dan Rp 50 ribu difoto copy banyak-banyak menggunakan kertas HVS. Hasil foto copy nyaris sempurna seperti uang asli namun tidak dilabeli benang pengaman sebagaimana yang ada pada lembaran uang asli. “Modusnya mereka copy uang asli sehingga, momor seri uangpun (yang dicopy) sama semua. Pakai kertas HVS biasa. Mesin print sudah disetting untuk copy uang bolak balik. Satu kertas HVS bisa hasilkan delapan lembar uang palsu,” tutur Joko.

Meskipun nyaris sama, lembaran uang palsu ini mudah dibedahkan sebab terbuat dari kertas HVS biasa yang mana jika diraba terasa halus. Jikapun kusut tak mudah bisa kembali mulus seperti lembaran uang asli. “Tahulah kita gimana kertas HVS kalau diremas. Jelas beda dengan lembaran uang asli yang bisa balik walaupun tidak semulus seperti awal,” ujar Joko.

Untuk menghasilkan cetakan yang lebih mirip dengan lembaran uang asli, pelaku juga menambahi pewarnaan manual menggunakan pensil pewarna pada bagian hasil copyan yang kurang jelas. Menurut pengakuan dua pelaku upal yang sudah mereka edarkan sekitar 20 lembar baik untuk belanja ataupun diberika kepada teman-teman mereka. “Itu pengakuan mereka. Tapi dengan modus dan cara kerja mereka seperti ini kami yakin mereka ini sindikat (pembuat upal) yang mungkin sudah banyak mencetak dan mengedarkan upal di masyarakat. Ini masih kami dalami terus,” kata Joko.

Kepada wartawan kedua pelaku mengakui perbuatan mereka itu. Mereka baru dua pekan di Batam. Pekan pertama mereka beraksi di Saguba, Sagulung dan pekan kedua di Simpang Dam. Mereka juga mengaku baru 20 lembar uang pecahan Rp 100 ribu foto copy yang diedarkan ke masyarakat. “Belajar dari internet. Coba-coba saja. Kami ke Batam mau cari kerja tapi belum dapat. Modal yang ada buat beli mesin print (untuk foto copy upal),” ujar Usman.

Atas perbuatan tersebut, kedua pelaku dijerat pasal 36 ayat 1, 2 dan 3 UU RI nomor 7 tahun 2011 tentang mata uang dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara.

 

Foto: Dalil Harahap/Batam Pos